Jumat, 11 Desember 2009

Fenomena Sosial di Indonesia: Upacara Metatah

Sejak masih berumur satu hari, setiap orang Bali dipenuhi dengan banyak ritual dalam hidupnya. Mulai dari upacara saat kelahirannya hingga ia meninggal dunia. Salah satu yang harus dilalui adalah Upacara Potong Gigi atau Metatah / Mesanggih dalam Bahasa Bali. Upacara Metatah merupakan salah satu ritual yang terpenting bagi setiap individu orang Bali yang menganut agama Hindu Bali. Upacara ini menandai satu babak hidup memasuki usia dewasa secara nniskala.

Upacara yang wajib dilakukan setiap lelaki atau wanita yang menginjak dunia dewasa dimaksudkan untuk mematikan 6 (enam) musush dalam diri manusia yang disebut Sad Ripu. Enam sifat buruk manusia itu terdiri dari Kama (nafsu), Loba (Rakus) Krodha (angkara murka) Mada (mabuk), Moha (kebingungan) dan Matsarya (iri hati). Keenam musuh diri itu harus dibersihkan dari setiap diri manusia, sehingga ritual ini menjadi kewajiban agar kehidupan setelahnya menjadi bersih dari semua sifat buruk tersebut.

Pada hari Suka Wage Klurut (Jumat) 10 Agustus 2007, merupakan hari Upacara Metatah yang dilakukan oleh 2 keluarga untuk 5 orang anaknya dari Banjar Tainsiat. Selain rangkaian upacara sehari sebelumnya dan 3 hari sesudahnya. Total selama 6 hari berturut-turut. Di hari H tersebut, tak lama sejak mentari menunjukkan dirinya, ritual dimulai dengan Ngajum Sekah di Merajan keluarga yang diiringi kidung Mantra yang dilakukan oleh para sesepuh keluarga.

Selanjutnya, setelah para juru sangging siap dengan peralatannya, yang akan metatah mulai bersiap. Prosesi Metatah diawali dengan pembacaan doa agar prosesi berjalan lancar. Kemudian sang juru Sangging, yang juga memiliki kemampuan supranatural, menyentuhkan gigi dengan cincin berwarna mirah delima di gigi dan dada. Ini melambangkan perlindungan bagi terhadap tubuh dari serangan ilmu hitam. Setelah yag ditatah berbaring, mulailah Sangging melakukan tugasnya. Selain peralatan untuk metatah yang terdiri dari kikir besi, juga ada perlengkapan penting yang tidak boleh tidak ada. Yaitu batang tebu sebagai pengganjal mulut agar tetap terbuka, kemudian potongan kunyit, potongan dapdap, kelapa gading muda untuk air bekas berkumur, air madu dan daun sirih. Semua punya makna dan simbol tersendiri.. Ditengah proses selalu dihentikan untuk memberikan kesempatan melihat apakah gigi yang dikikir telah cukup baik atau tidak. Proses metatah akan berakhir saat dirasakan cukup bagus dan itu dilambangkan dengan menggigit daun sirih. Metatah sendiri bukan dengan memotong gigi, namun mengkikir beberapa gigi. Gigi yang dikikir sebanyak 6 gigi, terutama gigi taring atas dan bawah.

Prosesi ini biasanya memakan waktu selama 10-15 menit. Dilakukan di bale utama keluarga. Biasanya, disekeliling Bali ini dikitari oleh beberapa anggota keluarga atau "orang pintar" yang memiliki kemampuan supranatural. Tempat metatah pun dijaga dengan ketat agar tak sembarangan orang bisa masuk area sakral ini. Semua dimaksudkan untuk menjaga lokasi metatah dan yang ditatah agar terhindar dari serangan ilmu hitam dari orang yang tak suka pada mereka atau juga sedang menguji ilmu hitamnya. Tak jarang terdengar kabar jika ada yang meninggal atau sakit tak lama setelah selesai ditatah. Oleh karenanya juga, upacara metatah tak pernah dilakukan hingga matahari berada di puncak langit.

Akhir prosesi hari itu dilakukan dengan persembahyangan di merajan keluarga. Seorang Pedanda memimpin persembahyangan para peserta metatah untuk memohon perlindungan dari Sang Hyang Widi Waca untuk memasuki tahapan baru dalam hidup mereka. Kepada para leluhur yang dilambangkan dengan patung bunga pun mereka minta didoakan dan direstui jalan hidupnya.


(diambil dari: www.google.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar